Wednesday, March 21, 2012

Sebuah Buah Pikir untuk Mama

TEH

“mau teh de?” panggil mama, subuh di pagi hari.
Aku  yang sedang asik ber-Online di komputer lengkap dengan headset hanya bisa menjawab secara tidak sadar “apaan mam?”
“mau teh enggak?” ulangnya dengan suara parau, menunjukan bahwa mama baru bangun. “boleh mam, bukan teh instant kan?” jawabku lagi “ya enggak lah, ada kopi juga nih, kamu mau teh apa kopi?”
Sambil berpikir untuk menjawab, terlintas sebuah pertanyaan, “keknya si mama baru tidur jam 11 kok uda bangun aja jam segini? Itu si mbak yg tidur jam 9 aja blom bangun”
“hmmm teh aja mam, enak sih” serayaku sambil tersenyum ke mama. “iya iya sebentar ya buat air panas dulu” mama yang masih mengantuk itu berjalan pelan kearah dapur belakang, akupun melanjutkan kesibukan ku di dunia maya, dengan headset tentunya.
“nih udah, mama taro termos ya” panggil mama “oke mam” aku menaruh headset di atas printer dan beranjak dari bangku tua ku yang kusam.
Terdengar suara batuk yang kecil saat aku menuang teh panas itu ke gelas kecil. Aku melihat mama, melihat sesosok biasa yang kulihat tiap hari, melihat seorang ibu biasa yang sedang menjalankan rutinitasnya dipagi hari, melihat seorang mama yang sederhana namun sangat pintar.
Tidak diragukan lagi, mama adalah seorang pengajar sejati, tidak pernah kulihat seorang pengajar seperti dia. Mempunyai jiwa pengajar namun sangat rendah hati. Pernah mama mendengarkan ku mengoceh kalang kabut tentang keadaan psikologi suatu karakter dalam film. Aku yang keasyikan ngoceh itu tidak berpikir bahwa dia pasti sudah tahu apa yang akan aku katakan, namun mama hanya senyum dan mendengarkan. Sungguh luar biasa.
“de tolong bukain pintu ya” kata mama yang dengan segera membuyarkan semua imajinasi dikepalaku. “oke mam”. Saat berjalan keluar, pikiran ku mulai melayang lagi. Aku sering melihat mama berdebat dengan kakak laki – laki  ku yang setengah jenius dan setengah urak – urakan, dia tidak kelawahan malah dia bisa mengikuti alur pikiran kakak ku. Sering aku melihat dia bercanda dan curhat dengan kakak ku yang perempuan, walau hanya sekedar “girl’s talk” tapi mama sangat menikmati.
Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, keluarga mama pun semuanya terdidik dan terpelajar, seperti halnya keluarga papa. Mungkin karena itu mama dan papa sangat akrab, biar pun pernah marah hebat tapi mereka tetap sebagai suami istri yang kompak. Hubungan yang sangat sulit dipahami oleh anak – anaknya waktu kecil, tapi seiring dengan waktu aku rasanya mulai mengerti. Mama sangat kehilangan papa, kita smua kehilangan dia tapi mungkin mamalah yang sangat merasakan dampaknya. Kasihan mama, kadang dia terlalu memaksakan diri, sering aku berpikir untuk sengaja tidak peduli agar dia tidak memikirkan aku, agar dia punya waktu sendiri, tapi ujung – ujungnya malah jadi ga karuan.

Pikiran ku berhenti melayang karena dibutuhkan usaha yang ekstra untuk membuka gembok tua yang hampir karatan ini. Setelah berhasil akupun kembali ke dalam rumah. Saat berjalan ke komputer ku, aku terdiam di tengah ruangan rumah. Ruangan keluarga yang sunyi dan sepi. Disitu hanya ada aku dan mama.
“kok diem? Tuh tehnya entar dingin loh” sambut mama penuh senyum. Kuambil gelas ku dan ku cicipi sedikit. Rasanya tawar tapi hangat, seperti senyum mama di subuh hari ini.
Dan ketika itu juga telintas di dalam pikiran ku. “mungkin mama seperti teh tawar” pikir ku “biar tidak manis, biar bukan minuman favorit, tapi hangatnya membuat pikiran menjadi tenang”
Mama yang hangat, mama yang selalu ada setiap hari mama yang tak pernah meninggalkan aku sendirian.
 “kenapa kamu de?” Tanya mama yang heran melihat ku bengong
“ga pa pa mam” jawab ku “tehnya enak, anget lagi”. Terima kasih mama

No comments:

Post a Comment