TEH
“mau teh de?” panggil mama, subuh di pagi hari.
Aku yang sedang asik ber-Online di komputer lengkap dengan headset hanya bisa menjawab secara tidak sadar “apaan mam?”
“mau
teh enggak?” ulangnya dengan suara parau, menunjukan bahwa mama baru
bangun. “boleh mam, bukan teh instant kan?” jawabku lagi “ya enggak lah,
ada kopi juga nih, kamu mau teh apa kopi?”
Sambil berpikir untuk
menjawab, terlintas sebuah pertanyaan, “keknya si mama baru tidur jam 11
kok uda bangun aja jam segini? Itu si mbak yg tidur jam 9 aja blom
bangun”
“hmmm teh aja mam, enak sih” serayaku sambil tersenyum ke
mama. “iya iya sebentar ya buat air panas dulu” mama yang masih
mengantuk itu berjalan pelan kearah dapur belakang, akupun melanjutkan
kesibukan ku di dunia maya, dengan headset tentunya.
“nih udah,
mama taro termos ya” panggil mama “oke mam” aku menaruh headset di atas
printer dan beranjak dari bangku tua ku yang kusam.
Terdengar
suara batuk yang kecil saat aku menuang teh panas itu ke gelas kecil.
Aku melihat mama, melihat sesosok biasa yang kulihat tiap hari, melihat
seorang ibu biasa yang sedang menjalankan rutinitasnya dipagi hari,
melihat seorang mama yang sederhana namun sangat pintar.
Tidak
diragukan lagi, mama adalah seorang pengajar sejati, tidak pernah
kulihat seorang pengajar seperti dia. Mempunyai jiwa pengajar namun
sangat rendah hati. Pernah mama mendengarkan ku mengoceh kalang kabut
tentang keadaan psikologi suatu karakter dalam film. Aku yang keasyikan
ngoceh itu tidak berpikir bahwa dia pasti sudah tahu apa yang akan aku
katakan, namun mama hanya senyum dan mendengarkan. Sungguh luar biasa.
“de
tolong bukain pintu ya” kata mama yang dengan segera membuyarkan semua
imajinasi dikepalaku. “oke mam”. Saat berjalan keluar, pikiran ku mulai
melayang lagi. Aku sering melihat mama berdebat dengan kakak laki –
laki ku yang setengah jenius dan setengah urak – urakan, dia tidak
kelawahan malah dia bisa mengikuti alur pikiran kakak ku. Sering aku
melihat dia bercanda dan curhat dengan kakak ku yang perempuan, walau
hanya sekedar “girl’s talk” tapi mama sangat menikmati.
Buah
memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, keluarga mama pun semuanya
terdidik dan terpelajar, seperti halnya keluarga papa. Mungkin karena
itu mama dan papa sangat akrab, biar pun pernah marah hebat tapi mereka
tetap sebagai suami istri yang kompak. Hubungan yang sangat sulit
dipahami oleh anak – anaknya waktu kecil, tapi seiring dengan waktu aku
rasanya mulai mengerti. Mama sangat kehilangan papa, kita smua
kehilangan dia tapi mungkin mamalah yang sangat merasakan dampaknya.
Kasihan mama, kadang dia terlalu memaksakan diri, sering aku berpikir
untuk sengaja tidak peduli agar dia tidak memikirkan aku, agar dia punya
waktu sendiri, tapi ujung – ujungnya malah jadi ga karuan.
Pikiran
ku berhenti melayang karena dibutuhkan usaha yang ekstra untuk membuka
gembok tua yang hampir karatan ini. Setelah berhasil akupun kembali ke
dalam rumah. Saat berjalan ke komputer ku, aku terdiam di tengah ruangan
rumah. Ruangan keluarga yang sunyi dan sepi. Disitu hanya ada aku dan
mama.
“kok diem? Tuh tehnya entar dingin loh” sambut mama penuh
senyum. Kuambil gelas ku dan ku cicipi sedikit. Rasanya tawar tapi
hangat, seperti senyum mama di subuh hari ini.
Dan ketika itu juga
telintas di dalam pikiran ku. “mungkin mama seperti teh tawar” pikir ku
“biar tidak manis, biar bukan minuman favorit, tapi hangatnya membuat
pikiran menjadi tenang”
Mama yang hangat, mama yang selalu ada setiap hari mama yang tak pernah meninggalkan aku sendirian.
“kenapa kamu de?” Tanya mama yang heran melihat ku bengong
“ga pa pa mam” jawab ku “tehnya enak, anget lagi”. Terima kasih mama
Panda Super
Wednesday, March 21, 2012
Sunday, February 26, 2012
it doesn't say
The
most predictable thing about life is being unpredictable
Sebuah
kalimat yang entah kenapa selalu terngiang dikepalaku. Mungkin, mungkin karena
bagiku kalimat ini tersirat sepintas tentang kehidupan ku yang selalu tak bisa
ditebak. Dikala aku berusaha sekuat tenaga ingin berdiri di puncak, aku malah
terjebak dijurang yang hanya Tuhan tahu kenapa. Dikala aku ingin berdiam diri
meninggalkan semua, aku malah berdiri diatas puncak yang tertinggi.
Terlalu
bingung, terlalu bodoh, dan terlalu pintar. Aku tidak tahu, aku sungguh tidak
mengerti. Yang aku mengerti hanyalah pertanyaan yang terus menerus muncul
dikepala. Tanpa batas, tanpa alasan, dan tanpa solusi.
Dulu
aku pernah bermimpi, dulu aku hidup dalam impian, dulu aku berada didalam diri
sendiri, dulu aku bahagia, dulu aku mempunyai 1000 alasan untuk bermimpi. Namun
apa yang kupunya sekarang? Yang tersisa hanyalah senyuman, senyuman kosong yang
begitu memuakkan, yang entah kenapa aku masih terus tersenyum. Apa alasan ku
untuk senyum? Apa alasan ku untuk tertawa? Kenapa aku begini?
Dulu
aku lemah dan pengecut, sekarang pun masih begini. Namun apa yang berbeda? Dulu
aku hidup sendiri ditengah keramaian, dulu tidak ada yang mengerti mimpi ku,
sekarang pun masih begini. Namun apa yang berbeda? Diriku kah? Mereka kah?
Duniakah? Alam semesta kah? Tuhan kah? Atau? Atau apa? Bahkan aku tidak bisa
menyelesaikan kalimat ini. Sungguh mengecewakan, sungguh menjijikan,
mempertanyakan semua dan meninggalkan semua. Tidak bertanggung jawab, bodoh,
dan tidak berguna.
Mana
yang lebih baik? Mempunyai 1000 mimpi dan 1 teman atau mempunyai 1000 teman dan
1 mimpi. Apa dulu konteks “mimpi” disini? Apakah itu menguntungkan masyarakat?
Apakah itu membawa perubahan bangsa? Apakah itu mencegah tindakan kejahatan?
Apa konteksnya? Lagi lagi pertanyaan yang acak yang muncul dikepalaku. Bahkan dengan
kalimat yang secara spontan kubuat ini, aku langsung bisa mencari apa yang bisa
ditanyakan? Kemampuan bodoh, itu menurutku.
“tulislah
apa yang kau mau” kata ibuku. Itulah yang jadi masalah. Apa yang aku mau?
Selama aku hidup ini aku hanya hidup untuk “yang mereka mau” sekarang tiba –
tiba “apa yang ku mau?”. Kalau aku mau menjadi penjahat boleh kahh? Kalau aku
menjadi psikopat bolehkah? Kalau aku menjadi pembunuh berantai bolehkah? Kalau
aku menjadi pelawak bolehkah? Kalau aku menjadi gamer sejati bolehkah?
Bolehkah? Bolehkah? Bolehkah? Kalimat yang kosong dan tiada makna “apa yang aku
mau?” itu hanya cara lain untuk membaca kalimat “kamu harus begitu kata ku, dan
kamu boleh menolak namun akhirnya kau tidak akan bisa bilang tidak”. Siapa yang
munafik? Aku atau mereka? Siapa yang menipu? Aku atau mereka?
“dah g
usah mikir, beli aja” kata almarhum ayahku, aku masih bisa mengingatnya secara
jelas. Sangat jelas dan begitu jelas. Bagai menonton film dilayar TV flat
screen dengan kualitas 100 terrapixel. Di pagi menjelang siang itu aku akan
membeli sebuah lampu, ayahku bilang untuk membeli lampu merek panason*c yang
susu, aku bertanya “kenapa namanya susu?” dan dia dengan kehangatkan akan
kesinisannya menjawab “dah beli aja g usah mikir”. Terngiang dikepalaku. Apa
aku salah? Aku kan Cuma bertanya? Kenapa aku g boleh bertanya? Banyak yang
ingin aku tanya tapi tidak kutanya. Terlalu takut, terlalu lemah, dan terlalu
sedih. Kalau dipikirkan lagi, alangkah hebat dan menyedihkannya keadaan ini,
sebuah keadaan yang sudah terjadi dimasa lalu, hanya sekejap, hanya sebuah
frase bisa berdampak sangat hebat ke individu ini. Aku bisa membayangkan mereka
merespons saat aku cerita ini “lebay deh”,”ya udah sih gitu doang”,”dih
digituan doang aja dipikirin”,”lah Cuma ngomong gitu apa salahnya?”. Mungkin
(dan memang) aku gila tapi bagi ku itu bukan “tidak apa apa” bagiku itu adalah
racun, racun syaraf yang efeknya mungkin permanen.
Yah
mereka memang tidak mengerti dan aku tidak menyalahkan mereka, aku (selalu)
menyalahkan diriku sendiri. Karena dari kecil aku tidak pernah melakukan
sesuatu yang benar dan bisa dibanggakan, wajar mereka tidak mau mengerti, wajar
aku tidak penting. Tapi dari semua kata dan kalimat yang merendahkan diri ini
sampai serendah rendahnya, aku hanya ingin berkata kepada mereka, berkata
dengan pelan, jelas, dan dengan mata yang menatap wajah mereka bahwa aku juga
manusia. Mungkin aku bukan manusia terbaik, mungkin juga aku memang manusia
yang terendah dan tidak berguna. Pintar tidak, bodoh pun tidak. Bahkan bisa
diragukan aku manusia apa robot yang hanya menunggu perintah, yang akan meledak
kalau dikasih tanggungjawab berlebih. Tapi paling tidak aku masih bisa
bernafas. Ya, bernafas, itu memang dan selalu akan cukup.
Buang
semua pertanyaan dan jawaban, bisakah? Mungkin tidak, tapi aku yakin bisa
mengabaikannya. Buang semua mimpi dan impian, bisakah? Tidak bisa, aku tidak
mau dan tidak akan pernah rela. Aku hidup demi mimpi, bukan demi mereka. Entah
kenapa beberapa tahun belakangan ini aku melupakan itu. Dan karena itu aku
terjebak di jurang ini. Hanya ada satu solusi, hanya ada satu jalan, hanya ada
satu pengorbanan. Terlihat memang mudah namun aku tetap tidak bisa membuang
keduanya. Sungguh manusia yang tidak berguna, aku yang telah dibesarkan di
keluarga terdidik dan berintelejensi ini terjebak di badai pikiran yang aku
buat sendiri.
Biarlah
semuanyal, abaikanlah semua. Toh tidak ada yang peduli, aku bisa bernafas dan
tersenyum sudah menunjukkan bahwa aku “hidup” didepan mereka. Dan panjangnya
tulisan atau essay atau wacana atau apalah ini namanya membuktikan bahwa aku
menyia – yiakan waktu yang bisa kupakai untuk tidak berpikir dan bekerja
seperti yang mereka katakan. Yup hidup “apa mau mereka” bukan hidup “apa mau
diriku”.
Entah
sampai kapan aku terjebak, kalaupun sampai nyawaku habis aku terjebak. Ya biar
sajalah. Malah bagus mungkin, karena mereka tidak akan stress dan kesel dan
juga buang – buang waktu untuk membantu ku dengan “ke-tidakmasalah-an” ini
Subscribe to:
Comments (Atom)
