Sunday, February 26, 2012

For infinity and beyooooooond!!!!!!

it doesn't say



The most predictable thing about life is being unpredictable

Sebuah kalimat yang entah kenapa selalu terngiang dikepalaku. Mungkin, mungkin karena bagiku kalimat ini tersirat sepintas tentang kehidupan ku yang selalu tak bisa ditebak. Dikala aku berusaha sekuat tenaga ingin berdiri di puncak, aku malah terjebak dijurang yang hanya Tuhan tahu kenapa. Dikala aku ingin berdiam diri meninggalkan semua, aku malah berdiri diatas puncak yang tertinggi.

Terlalu bingung, terlalu bodoh, dan terlalu pintar. Aku tidak tahu, aku sungguh tidak mengerti. Yang aku mengerti hanyalah pertanyaan yang terus menerus muncul dikepala. Tanpa batas, tanpa alasan, dan tanpa solusi.
Dulu aku pernah bermimpi, dulu aku hidup dalam impian, dulu aku berada didalam diri sendiri, dulu aku bahagia, dulu aku mempunyai 1000 alasan untuk bermimpi. Namun apa yang kupunya sekarang? Yang tersisa hanyalah senyuman, senyuman kosong yang begitu memuakkan, yang entah kenapa aku masih terus tersenyum. Apa alasan ku untuk senyum? Apa alasan ku untuk tertawa? Kenapa aku begini?

Dulu aku lemah dan pengecut, sekarang pun masih begini. Namun apa yang berbeda? Dulu aku hidup sendiri ditengah keramaian, dulu tidak ada yang mengerti mimpi ku, sekarang pun masih begini. Namun apa yang berbeda? Diriku kah? Mereka kah? Duniakah? Alam semesta kah? Tuhan kah? Atau? Atau apa? Bahkan aku tidak bisa menyelesaikan kalimat ini. Sungguh mengecewakan, sungguh menjijikan, mempertanyakan semua dan meninggalkan semua. Tidak bertanggung jawab, bodoh, dan tidak berguna.

Mana yang lebih baik? Mempunyai 1000 mimpi dan 1 teman atau mempunyai 1000 teman dan 1 mimpi. Apa dulu konteks “mimpi” disini? Apakah itu menguntungkan masyarakat? Apakah itu membawa perubahan bangsa? Apakah itu mencegah tindakan kejahatan? Apa konteksnya? Lagi lagi pertanyaan yang acak yang muncul dikepalaku. Bahkan dengan kalimat yang secara spontan kubuat ini, aku langsung bisa mencari apa yang bisa ditanyakan? Kemampuan bodoh, itu menurutku.
“tulislah apa yang kau mau” kata ibuku. Itulah yang jadi masalah. Apa yang aku mau? Selama aku hidup ini aku hanya hidup untuk “yang mereka mau” sekarang tiba – tiba “apa yang ku mau?”. Kalau aku mau menjadi penjahat boleh kahh? Kalau aku menjadi psikopat bolehkah? Kalau aku menjadi pembunuh berantai bolehkah? Kalau aku menjadi pelawak bolehkah? Kalau aku menjadi gamer sejati bolehkah? Bolehkah? Bolehkah? Bolehkah? Kalimat yang kosong dan tiada makna “apa yang aku mau?” itu hanya cara lain untuk membaca kalimat “kamu harus begitu kata ku, dan kamu boleh menolak namun akhirnya kau tidak akan bisa bilang tidak”. Siapa yang munafik? Aku atau mereka? Siapa yang menipu? Aku atau mereka?

“dah g usah mikir, beli aja” kata almarhum ayahku, aku masih bisa mengingatnya secara jelas. Sangat jelas dan begitu jelas. Bagai menonton film dilayar TV flat screen dengan kualitas 100 terrapixel. Di pagi menjelang siang itu aku akan membeli sebuah lampu, ayahku bilang untuk membeli lampu merek panason*c yang susu, aku bertanya “kenapa namanya susu?” dan dia dengan kehangatkan akan kesinisannya menjawab “dah beli aja g usah mikir”. Terngiang dikepalaku. Apa aku salah? Aku kan Cuma bertanya? Kenapa aku g boleh bertanya? Banyak yang ingin aku tanya tapi tidak kutanya. Terlalu takut, terlalu lemah, dan terlalu sedih. Kalau dipikirkan lagi, alangkah hebat dan menyedihkannya keadaan ini, sebuah keadaan yang sudah terjadi dimasa lalu, hanya sekejap, hanya sebuah frase bisa berdampak sangat hebat ke individu ini. Aku bisa membayangkan mereka merespons saat aku cerita ini “lebay deh”,”ya udah sih gitu doang”,”dih digituan doang aja dipikirin”,”lah Cuma ngomong gitu apa salahnya?”. Mungkin (dan memang) aku gila tapi bagi ku itu bukan “tidak apa apa” bagiku itu adalah racun, racun syaraf yang efeknya mungkin permanen.

Yah mereka memang tidak mengerti dan aku tidak menyalahkan mereka, aku (selalu) menyalahkan diriku sendiri. Karena dari kecil aku tidak pernah melakukan sesuatu yang benar dan bisa dibanggakan, wajar mereka tidak mau mengerti, wajar aku tidak penting. Tapi dari semua kata dan kalimat yang merendahkan diri ini sampai serendah rendahnya, aku hanya ingin berkata kepada mereka, berkata dengan pelan, jelas, dan dengan mata yang menatap wajah mereka bahwa aku juga manusia. Mungkin aku bukan manusia terbaik, mungkin juga aku memang manusia yang terendah dan tidak berguna. Pintar tidak, bodoh pun tidak. Bahkan bisa diragukan aku manusia apa robot yang hanya menunggu perintah, yang akan meledak kalau dikasih tanggungjawab berlebih. Tapi paling tidak aku masih bisa bernafas. Ya, bernafas, itu memang dan selalu akan cukup.

Buang semua pertanyaan dan jawaban, bisakah? Mungkin tidak, tapi aku yakin bisa mengabaikannya. Buang semua mimpi dan impian, bisakah? Tidak bisa, aku tidak mau dan tidak akan pernah rela. Aku hidup demi mimpi, bukan demi mereka. Entah kenapa beberapa tahun belakangan ini aku melupakan itu. Dan karena itu aku terjebak di jurang ini. Hanya ada satu solusi, hanya ada satu jalan, hanya ada satu pengorbanan. Terlihat memang mudah namun aku tetap tidak bisa membuang keduanya. Sungguh manusia yang tidak berguna, aku yang telah dibesarkan di keluarga terdidik dan berintelejensi ini terjebak di badai pikiran yang aku buat sendiri.

Biarlah semuanyal, abaikanlah semua. Toh tidak ada yang peduli, aku bisa bernafas dan tersenyum sudah menunjukkan bahwa aku “hidup” didepan mereka. Dan panjangnya tulisan atau essay atau wacana atau apalah ini namanya membuktikan bahwa aku menyia – yiakan waktu yang bisa kupakai untuk tidak berpikir dan bekerja seperti yang mereka katakan. Yup hidup “apa mau mereka” bukan hidup “apa mau diriku”.

Entah sampai kapan aku terjebak, kalaupun sampai nyawaku habis aku terjebak. Ya biar sajalah. Malah bagus mungkin, karena mereka tidak akan stress dan kesel dan juga buang – buang waktu untuk membantu ku dengan “ke-tidakmasalah-an” ini